Entradas populares

Ibu Kecilku|Bucik Rini-ku

Ibu kecilku atau disingkat dengan Bucik adalah adik kandung dari ibukku, beliau bernama Rini. Bucik Rini sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri karena sejak kecil aku diasuh olehnya. Bucik memiliki sifat yang lemah lembut dan tidak gampang marah. Selama aku diasuh olehnya, beliau tidak pernah memarahiku. Aku sangat nurut dengan bucikku, kemanapun beliau pergi aku selalu ingin ikut. Bucik pergi ke kamar mandi aku ingin ikut,  bucik pergi buang air besar aku juga ingin ikut aku duduk didekat bucik menunggu hingga bucik selesai. Begitu juga dengan makan, aku paling suka makan yang dikusalin oleh bucik, nikmat rasanya kalau makan pakai tangan bucik. Selain itu, bucik juga senang membawaku pergi jalan-jalan. Kemudian, bucik memotretku hasil fotonya selalu bucik cuci dan diabadikan dalam sebuah album sebagai kenang-kenangan bahwa masa kecilku sangatlah ceria. Bucik memiliki kamera sendiri sehingga kapanpun beliau bisa memotretku, banyak sekali koleksi foto-fotoku saat masih kecil yang diambil oleh bucik.  Bucik bukan hanya ibu untukku namun beliau juga sahabat untukku. Bucik banyak mengajari berbagai hal dalam hidupku seperti pendidikan moral, kesopanan, tingkah laku hingga kebiasaan seperti tata cara dalam menjemur pakaian, menyetrika, cara memasak dll. Jika bukan karena bucik mungkin hingga saat ini aku tidak tahu bagaimana menjemur pakaian yang benar. Bucik jugalah yang mengajariku menulis diary. Sebuah buku diary berwarna purple yang dibeli bersama oleh aku dan bucik sebagai temanku dikala malam hari. Ketika aku beranjak remaja hingga dewasa awal bucik lebih protected terhadapku. Beliau banyak memberikan nasehat dan masukan yang sangat berarti untuk hidupku. Bucik adalah ibu yang melihat langsung pertumbuhan aku ketika aku puber bucik adalah satu-satunya sosok yang mengetahuinya. Aku ingat sekali saat aku puber aku lebih suka diam dikamar dan hanya didepan cermin, bucik menyibak kain pintu dan memperhatikan aku yang sedang senyum-senyum didepan cermin sambil menyisir rambutku. Bucikpun ikut tersenyum. Bucik adalah ibu yang sangat pengertian ketika aku duduk di kelas XII, masa-masa itu adalah masa-masa dimana aku sangat sibuk disekolah. Aku mengikuti les disekolah hingga petang. Selama aku duduk di bangku kelas XII aku sangat jarang membantu bucik Rini membereskan rumah, mencuci pakaian dan menyetrika. Buciklah yang melakukan semua itu,  sepulang sekolah aku melihat pakaianku tersusun rapi. Bucik ikhlas melakukan semua itu, beliau baik sekali.
Sekarang aku sudah dewasa,  aku sudah jauh dari bucik. Aku juga tidak menyangka jika aku akan berpisah dengan bucik. Aku sangat rindu kasih sayang bucik, aku akan berusaha untuk membahagiakan bucik. Bucik selalu ada dalam do'aku.
Semoga bucik selalu sehat, terima kasih banyak bucik sudah mengasuhku dengan ikhlas.
Bucik tidak pernah membentakku, bucik begitu penyayang.
Bucik adalah inspirasiku, dari bucik aku belajar kesabaran dan kekuatan. 

Masih Pantaskah???

Apakah masih pantas aku berada disini, berada bersama mereka yang sangat baik kepadaku.
Hingga sekarang tak kunjung terbalaskan.
Aku selalu menodai hati mereka, aku tahu itu sangat sakit. Aku tak pantas bersamanya, aku seharusnya tidak pernah ada disini. Kehadiranku hanya untuk menyayat-nyayat hatinya. Oh Tuhan, hukumlah aku dengan apa yang sudah aku perbuat ini. Biarlah biarlah...  aku pantas menanggungnya. Akulah seoarang pendosa, dosa-dosaku bagaikan debu yang tak terhitung karena banyaknya.
Ya Allah, bimbinglah hamba ini.
Hamba tidak ingin engkau murka terhadap hamba.
Hamba sangat takut kepadamu 😢

When I can not touch you, I Choose Love You in Silence




Allah tak pernah mengharamkan cinta. Cinta adalah sebuah rasa yang sudah menjadi fitrah bagi setiap umat manusia. Namun, manusia diperintahkan untuk menjaga agar cinta itu tidak lantas menjerumuskannya pada tindakan yang diharamkan-Nya. Cinta haruslah menjadi media untuk mendekat kepada-Nya. Cinta yang seperti apakah yang sekiranya mampu mendekatkan kita kepada Sang Pemberi Cinta? Sebut saja, cinta dalam diam.
Cinta dalam diam menurut Islam adalah cara mencintai yang dirasa paling tepat ketika diri belum mampu terikat dalam sebuah ikatan suci, yaitu pernikahan. Jika belum mampu mencintai dan dicintai dalam ikatan pernikahan, cinta dalam diam merupakan jawaban atas segala kegalauan hati. Bagaimanakah cara memperjuangkan cinta dalam diam?
“Kini aku tersadar, bahwa sendiri adalah status terbaik sebelum menikah. Kesucian diri, tulusnya cinta, dan besarnya pengorbanan, hanya untuk orang yang sudah dihalalkan bagi kita. Maka sebelum nikah kita harus bersabar dalam kesendirian. Kita padatkan waktu untuk berprestasi. Tak perlu lagi kita galau soal jodoh. Kalau diri kita berkualitas. Jodoh yang berkualitas akan dihadirkan untuk kita,” (Ahmad Rifa’i Rif’an).
Persoalan tidak akan selesai hanya dengan kita mengatakan, “Allah, aku mencintainya.” Lantas, apakah yang menjadi bukti bahwa perasaan itu adalah cinta karena Allah? Ya, sebuah perjuangan. Sebuah perjuangan untuk membangun cintalah yang akan kita lakukan setelah rasa bernama cinta itu hadir. Cinta tak semestinya memaksa diri untuk melupakan, tetapi cinta juga tak boleh memaksa diri untuk memiliki. Perasaan cinta haruslah dikelola agar rasa cinta dapat tumbuh ataupun mengkerut sewajarnya. Memantaskan diri merupakan cara untuk mencintai dalam diam.


“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya,” (Imam Syafi’i).
Apakah kita sungguh yakin bahwa dialah jodoh kita? Jodoh itu mungkin saja teman kita, atau orang yang baru saja kita temui di suatu tempat, atau seseorang yang dulunya kita ikhlaskan. Jodoh itu bisa saja orang tua atau wali kita yang mencarikan, atau teman kita yang menjodohkan. Bagaimana pun juga, jodoh itu bukan hanya perihal cinta, tetapi juga tentang rencana Allah kepada kita. Bukan cinta yang pada akhirnya membuat kita berjodoh dengan seseorang, tetapi Allah-lah yang menjodohkan. Tentunya, semua telah tertulis dalam Lauful Mahfuzh. Jadi, janganlah kita mencintai seseorang melebihi cinta kita kepada Allah. Cukuplah cinta dalam diam dan serahkan sepenuhnya kepada Allah. Setelah usaha cinta dalam diam ini yang bisa kita lakukan ialah mengikhlaskan semuanya kembali kepada Allah.
Dalam proses mengikhlaskan sembari terus berusaha menjadi seorang muslim/muslimah yang baik, tetap berdoalah kepada Allah yang mengetahui rasa cinta yang dirasakan. “Ya Allah, ampuni aku karena sampai detik ini aku masih menyimpan sebuah rasa cinta kepada salah satu hamba-Mu yang jauh di sana. Ya Allah, jika memang rasa cinta ini membuatku jauh dari-Mu, maka hilangkanlah. Kumohon pertemukan aku dengan orang yang mencintai-Mu di atas segalanya, yang mencintaiku karena-Mu dan yang kucintai karena-Mu. Namun, jika memang rasa cinta ini membuatku mendekat kepada-Mu dan dialah yang Kau tetapkan sebagai jodohku, maka pertemukanlah kami di waktu yang tepat. Di saat kami telah siap, pertemukan kami dalam kesucian cinta-Mu.”
Mencintalah dengan bijak. Tak perlu terlalu berharap terhadap cinta yang dirasa, cukuplah cinta dalam diam. Berdoalah pada Yang Maha Kuasa atas segala pilihan terbaik-Nya. Semoga kita akan mendapatkan pilihan yang benar-benar terbaik dan menjadi pendamping dunia dan akhirat. Wallahualam bisawab.

Al-Lail

Demi malam apabila menutupi
Demi siang apabila terang-benderang,
Demi penciptaan laki-laki dan perempuan
Sungguh, usahamu memang beraneka macam
Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan allah) dan bertakwa
Dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga)
Maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)
Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan allah)
Serta mendustakan (pahala) yang terbaik
Maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)
Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa
Sesungguhnya kamilah yang memberi petunjuk
Dan sesungguhnya milik kamilah akhirat dan dunia itu
Maka aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala
Yang hanya dimasuki oleh orang yang paling celaka
Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)
Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa
Yang mengingatkan hartanya (di jalan allah) untuk membersihkan (dirinya)
Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya
Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya yang mahatingg
Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna)

-Surah ke 92 : 21 Ayat
(Makkiyyah)

-Disillusionment

This is my disillusion. 
When I was six grade in my university,  I got "A" score of qualitative research subject that had 3 SKS. But, in my transcript they made "B" score. I have given complain but they didn't want to change it back,  they said that it wasn't their mistake. It made me very disappointed. 
Supposing they know my endeavor to get a good value, my struggle in doing qualitative research assignment,  making the proposal by talking speaking skill. I always practiced presentation by self. I needed several days to get the good result. But now,  I have been sincere with all happened.

Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, Melapangkan Dada

Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yan melakukannya. Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.


Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya Anda akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati. Sedekahilah orang yang papa, tolonglah orang-orang yang terzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang terkena m
usibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan Anda!
Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih.
Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi,
 "... meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri."
(Al-Hadits)

Sedang kemuraman wajah merupakan tanda permusuhan sengit terhadap orang lain yang hanya diketahui terjadinya oleh Sang Maha Gaib.

Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong, dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna, dan juga
hakekatnya.

{Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus
dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan
Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.}
(QS. Al-Lail: 19-21)

Hari Ini Milik Anda

Pada hari dimana Anda hidup saat inilah sebaiknya Anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyakbanyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada- Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda
hari dengan penuh keridhaan. 

Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur.}
(QS. Al-A'raf: 144)

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian. Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati Anda satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda): Harimu adalah hari ini. Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda? Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi? Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat Anda, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan. Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati, "Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku."
Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada al-Qur'an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat. Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya', dan buruk sangka. Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, "Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi."
"Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan."
"Hari ini milik Anda", adalah ungkapan yang paling indah dalam "kamus kebahagiaan". Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.

Buscar

 

About

Cucu Nenek Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger